Perbedaan Laporan Keuangan Komersial vs. Fiskal: Mengapa Keduanya Penting?
Dalam dunia bisnis di Indonesia, seorang akuntan atau pemilik usaha tidak cukup hanya membuat satu jenis laporan keuangan. Terdapat dua "versi" laporan yang memiliki tujuan berbeda: Laporan Keuangan Komersial (Akuntansi) dan Laporan Keuangan Fiskal (Pajak).
Meskipun keduanya berasal dari sumber data transaksi yang sama, hasil akhirnya sering kali berbeda karena adanya perbedaan aturan main antara standar akuntansi dan undang-undang perpajakan.
1. Definisi dan Tujuan
Laporan Keuangan Komersial: Disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kinerja ekonomi perusahaan kepada pihak eksternal seperti investor, kreditor, dan manajemen guna pengambilan keputusan ekonomi.
Laporan Keuangan Fiskal: Disusun berdasarkan Undang-Undang Perpajakan yang berlaku. Tujuannya spesifik: untuk menghitung berapa besar Pajak Penghasilan (PPh) yang harus dibayar oleh perusahaan kepada negara.
2. Perbedaan Utama dari Berbagai Aspek
| Aspek Perbedaan | Laporan Keuangan Komersial | Laporan Keuangan Fiskal |
| Dasar Penyusunan | Standar Akuntansi Keuangan (SAK) | Undang-Undang Perpajakan (UU PPh) |
| Orientasi | Menilai kinerja dan posisi keuangan | Menghitung besarnya pajak terutang |
| Pengguna Utama | Investor, Bank, Manajemen | Direktorat Jenderal Pajak (DJP) |
| Metode Penyusutan | Ditentukan perusahaan (Garis lurus, saldo menurun, dll) | Ditentukan UU (Kelompok harta dan masa manfaat sudah baku) |
| Pengakuan Biaya | Semua biaya untuk operasional diakui | Hanya biaya yang berkaitan dengan 3M (Mendapatkan, Menagih, Memelihara penghasilan) |
3. Mengapa Hasil Akhirnya Berbeda?
Perbedaan antara laba komersial dan laba fiskal terjadi karena adanya Koreksi Fiskal (Rekonsiliasi Fiskal). Koreksi ini dibagi menjadi dua jenis:
Beda Tetap (Permanent Difference):
Biaya atau penghasilan yang diakui dalam akuntansi komersial, tetapi selamanya tidak akan diakui dalam aturan pajak.
Contoh: Biaya sumbangan, biaya sanksi pajak (denda), atau penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final (seperti bunga deposito).
Beda Waktu (Timing Difference):
Perbedaan yang terjadi karena waktu pengakuan. Secara total nilai akan sama, namun tahun pengakuannya berbeda.
Contoh: Perbedaan metode penyusutan aset atau penilaian persediaan.
4. Proses Alurnya
Secara praktis, perusahaan tidak membuat dua pembukuan yang terpisah dari awal. Prosesnya adalah:
Perusahaan menyusun Laporan Keuangan Komersial terlebih dahulu.
Melakukan Rekonsiliasi Fiskal (menambah atau mengurangi laba komersial berdasarkan aturan pajak).
Menghasilkan Laporan Keuangan Fiskal sebagai lampiran SPT Tahunan PPh Badan.
Kesimpulan
Memahami perbedaan kedua laporan ini sangat krusial untuk menghindari sanksi perpajakan sekaligus menjaga kepercayaan investor. Laporan komersial menunjukkan "kesehatan" bisnis Anda, sementara laporan fiskal adalah bentuk kepatuhan Anda kepada negara.
Komentar
Posting Komentar